KEMISKINAN DAN KESENJANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA
KEMISKINAN DAN KESENJANGAN
Dibuat oleh : Khodijah Safira
PEREKONOMIAN INDONESIA
S1- Akuntansi
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiran tuhan yang maha esa atas segala rahmatnya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut serta dalam pembuatan makalah ini yang berjudul “KEMISKINAN dan KESENJANGAN”.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Saya menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Daftar Isi
Kata Pengantar…………………………………………i
Daftar Isi…………………………………..……………..…….ii
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah………………………….…..……iii
1.2 Perumusan Masalah………………………............……….....…iv
1.3 Tujuan Masalah………………………………...………….....v
Bab II Pembahasan
2.1 Konsep dan Pengertian Kemiskinan ……………………………1
2.2 Penyebab Dan Dampak Kemiskinan………………………2 2.3 Pertumbuhan, Kesenjangan, dan Kemiskinan………………..….3
2.4 Faktor Penyebab Kemiskinan Di Indonesia……………………………..4
2.5 Beberapa Indikator Kesenjangan dan Kemiskinan……………5
2.6 Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan…………………….….6
2.7 Kebijakan Anti Kemiskinan ……………………………….7
2.8 Contoh Kasus Kemiskinan Di Indonesia………………………….8
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan…………………………………………..9
Daftar Pustaka…………………………………………...….10
Daftar Isi…………………………………..……………..…….ii
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah………………………….…..……iii
1.2 Perumusan Masalah………………………............……….....…iv
1.3 Tujuan Masalah………………………………...………….....v
Bab II Pembahasan
2.1 Konsep dan Pengertian Kemiskinan ……………………………1
2.2 Penyebab Dan Dampak Kemiskinan………………………2 2.3 Pertumbuhan, Kesenjangan, dan Kemiskinan………………..….3
2.4 Faktor Penyebab Kemiskinan Di Indonesia……………………………..4
2.5 Beberapa Indikator Kesenjangan dan Kemiskinan……………5
2.6 Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan…………………….….6
2.7 Kebijakan Anti Kemiskinan ……………………………….7
2.8 Contoh Kasus Kemiskinan Di Indonesia………………………….8
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan…………………………………………..9
Daftar Pustaka…………………………………………...….10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Negara Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Namun, hal tersebut tidaklah berpengaruh terhadap kemiskinan dan kesenjangan yang terjadi di Indonesia. Kemiskinan di Indonesia sudah sangat meraja lela, dan pemerintah sedang berupaya untuk mengatasi kemiskinan dan kesenjangan yang terjadi. Dalam hal ini penyusun mencoba untuk memaparkan kemiskinan dan kesenjangan yang ada di negara tercinta kita ini.
1.2 Perumusan Masalah
Dalam menyusun makalah ini, penulis yang membahas mengenai kemiskinan dan kesenjangan ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut :
1 Apa yang menjadi penyebab dasar kemiskinan suatu negara ataupun di Indonesia?
2 Apa yang menjadi penyebab dasar kesenjangan suatu negara ataupun di Indonesia?
3 Bagaimana cara mengatasi masalah kemiskinan dan kesenjangan?
1.3 Tujuan Masalah
Tujuannya untuk membuat kesadaran akan kemiskinan yang terjadi kepada masyarakat di Indonesia, memberikan informasi kepada masyarakat untuk menghadapi kemiskinan dan kesenjangan, serta mengetahui sejauh mana upaya pemerintah untuk mengatasi kemiskinan dan kesenjangan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep dan Pengertian Kemiskinan
• Kemiskinan
adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan juga dapat didefinisikan menurut dua pendekatan. Kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut diukur dengan suatu standart tertentu, sementara kemiskinan relatif bersifat kondisional, biasanya membandingkan pendapatan sekelompok orang dengan pendapatan kelompok lain. Sedang kemiskinan absolut adalah sejumlah penduduk yang tidak mampu mendapatkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka hidup di bawah tingkat pendapatan riil minimum tertentu- atau mereka berada di bawah garis kemiskinan internasional.
Kemiskinan menurut Edi Suharto adalah ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasi basis kekuasaan sosial. Basis kekuasaan sosial meliputi:
1. Sumber keuangan (mata pencaharian, kredit, modal)
2. Modal produktif atau asset (tanah, perumahan, kesehatan, alat produksi)
3. Jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa.
4. Organisasi sosial dan politik yang digunakan untuk mencapai kepentingan bersama.
5. Informasi yang berguna untuk kemajuan hidup.
6. Pengetahuan dan keterampilan.
• Konsep Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir ditengah masyarakat. Kemiskinan sebagai fenomena sosial yang telah lama ada, berkembang sejalan dengan peradaban manusia. Masyarakat miskin pada umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi sehingga seringkali makin tertinggal jauh dari masyarakat lain yang memiliki potensi tinggi.
Kemiskinan juga sering disandingkan dengan kesenjangan, karena masalah kesenjangan mempunyai kaitan erat dengan masalah kemiskinan. Substansi kesenjangan adalah ketidakmerataan akses terhadap sumber daya ekonomi.
• Garis kemiskinan
adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu negara. Dalam praktiknya, pemahaman resmi atau umum masyarakat mengenai garis kemiskinan (dan juga definisi kemiskinan lebih tinggi di negara maju daripada di negara sedang berkembang.
Hampir setiap masyarakat memiliki rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Garis kemiskinan berguna sebagai perangkat untuk mengukur rakyat miskin dan mempertimbangkan pembaharuan sosio-ekonomi.
2.2 Penyebab Dan Dampak Kemiskinan
• Penyebab Kemiskinan
pada umumnya penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut :
1. Laju Pertumbuhan Penduduk : Pertumbuhan penduduk di indonesia terus meningkat di setiap 10 tahun menurut hasil senses penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk membuat indonesia semakin terpuruk dengan keadaan ekonomi yang belum mapan. Jumlah penduduk yang bekerja tidak sebanding dengan jumlah beban ketergantungan. Penghasilan yang minim ditambah dengan banyaknya beban ketergantungan yang harus ditanggung membuat penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
2. Angkatan Kerja : Penduduk yang bekerja dan pengangguran. Secara garis besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua yaitu, tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang tergolong sebagai tenaga kerja ialah penduduk yang berumur didalam batas usia kerja. Di indonesia batas usia kerja yaitu minimum 10 tahun.
3. Tingkat Pendidikan yang Rendah : Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan salah satu penyebab kemiskinan di suatu negara. Ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi terutama industri, jelas sekali dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis.
4. Kurangnya Perhatian dari Pemerintah : Pemerintah yang kurang peka terhadap laju pertumbuhan masyarakat miskin dapat menjadisalah satu faktor kemiskinan. Pemerintah tidak dapat memutuskan kebijakan yang mampu mengendalikan tingkat kemiskinan di negaranya.
5. Distribusi yang Tidak Merata : Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan timpang, penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan kualitasnya rendah.
• Dampak Kemiskinan
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks.
1. Pengangguran : Sebagaimana kita ketahui jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 saja sebanyak 12,7 juta orang. Jumlah yang cukup “fantastis” mengingat krisis multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini.
Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
2. Kekerasan : Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.
3. Pendidikan : Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.
Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.
4. Kesehatan : Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
5. Konflik Sosial Bernuansa SARA : Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan “keamanan” dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif.
2.3 Pertumbuhan, Kesenjangan, dan Kemiskinan
Negara- negara yang proses pembangunan ekonominya sangat pesat dan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, seperti Indonesia, menunjukkan seakan – akan ada suatu korelasi positif antara laju pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan : semakin tinggi PDB semakin besar juga perbedaan pendapatan antara kaum miskin dnegan kaum kaya.
Tetapi ketika suatu negara megalami pembagunan maka pada tahap awal awal dari proses pembangunan, tingkat kemiskinan cenderung meningkat, dan pada saat – saat akhir jumlah orang miskin berangsur – angsur berkurang.
2.4 Beberapa Indikator Kesenjangan dan Kemiskinan
A. Indikator Kesenjangan
Ada sejumlah cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang dibagi ke dalam dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan stochastic dominance. Yang sering digunakan dalam literatur adalah dari kelompok pendekatan pertama dengan tiga alat ukur, yaitu the Generalized Entropy(GE), ukuranAtkinson, dan KoefisienGini. Yang paling sering dipakai adalah koefisien gini.
Nilai koefisien gini berada pada selang 0-1.
Bila 0 : kemerataan sempurna (setiap orang mendapat porsi yang sama daripendapatan)
Bila 1 : ketidak merataan yang sempurna dalam pembagian pendapatan.
Ide dasar dari perhitungan koefisien gini berasal dari Kurva Lorenz.
Semakin tinggi nilai rasio gini, yakni mendekati 1 atau semakin jauh kurva lorenz dari garis 45 derajat tersebut, semakin besar tingkat ketida kmerataan distribusi pendapatan.
Ketimpangan dikatakan sangat tinggi apabilai nilai koefisien gini berkisar antara 0,71-1,0.
Ketimpangan dikatakan tinggi dengan nilai koefisien gini 0,5-0,7.
Ketimpangan dikatakan sedang dengan nilai koefisien gini antara 0,36-0,49.
Ketimpangan dikatakan rendah dengan nilai koefisien gini antara 0,2-0,35.
B. Indikator Kemiskinan
Karena adanya perbedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup batas garis kemiskinan yang digunakan setiap negara berbeda-beda. Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (BPS, 1994). Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2.100 kalori per hari. Sedangkan pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan, sandang, serta aneka barang dan jasa.
BPS menggunakan 2 macam pendekatan, yaitu:
- Pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach)
Basic Needs Appoarch merupakan pendekatan yang sering digunakan. Dalam metode BPS, kemiskinan dikonseptualisasikan sebagai ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
2.5 Kemiskinan di Indonesia
Data jumlah penduduk miskin atau persentase penduduk miskin sering berubah-ubah karena :
– Ukuran Miskin atau garis kemiskinan yang dipakai berubah
– Data empiris dari lapangan yang bias, sering dibuat estimasi.
Disini disarikan data dan perihal kemiskinan di Indonesia yang datanya bersumber dari BPS, Stattistik Indonesia Tahun 2004. Terjadinya krisis ekonomi di Indonesia tahun 1977 menyebabkan bertambahnya penduduk miskin. Padahal sebelum terjadi krisis jumlah penduduk miskin terus berkurang. Menurut standar 1966, pada tahun 1966 jumlah penduduk miskin adalah 22,5 juta jiwa atau 11,3% dari jumlah penduduk. Penduduk miskin 7,2 juta di perkotaan (9,7%) dan 15,3 juta di perdesaan (12,4%).
Dalam kurun waktu tahun 1993-1996 penduduk miskin di perkotaan berkurang 1,5 juta jiwa dan di perdesaan berkurang 1,9 juta jiwa. Pada akhir tahun 1998 jumlah penduduk miskin menjadi 49,5 juta jiwa. Kenaikan jumlah penduduk miskin ini disebabkan krisis ekonomi dan standar kemiskinan yang digunakan BPS berubah. Jumlah penduduk miskin tahun 1996 jika diukur dengan standar 1988 adalah 34,5 juta, jadi akibat krisis adalah 15 juta (49,5-34,5) juta. Standar kemiskinan tahun 1988 adalah Rp.96.959 untuk kota dan Rp,72,780 untuk desa, (Rp./kapita/bulan).
Pada Februari 1999 jumlah penduduk miskin adalah 48,4 juta, di desa sebanyak 67,6%. Garis kemiskinan yang dipakai Rp,92.409 di kota dan Rp.74.272 di desa, (Rp./kapita/bulan). Pada Februari 2002 jumlah penduduk miskin adalah 38,4 juta, di desa sebanyak 65,4%. Garis kemiskinan yang dipakai Rp,130.499 di kota dan Rp.96.512 di desa (Rp./kapita/bulan). Pada Februari 2003 jumlah penduduk miskin adalah 37,3 juta. Pada Februari 2004 jumlah penduduk miskin adalah 36,1 juta. Garis kemiskinan yang dipakai Rp,143.455 di kota dan Rp.108.725 di desa (Rp./kapita/bulan).
2.6 Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan
1. Faktor Ekonomi :
Yakni turunnya pertumbuhan ekonomi,akibat adanya inflasi,refresi dan sebagainya,menimbulkan kemiskinan ,sehingga kemsikinan relatiif dam absoulut semakin bertambah.Kemiskinan akibat perekonomian dapat diselesaikan diatasi dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang baik dan merata.
Disamping itu pertumbuhan ekonomi juga kelangkaan sumber-sumber daya ekonomi merupakan salah satu sebab timbulnya kemiskinan.
2. Faktor Individual :
Terkait dengan aspek patalogi, termasuk kondisi fisik dan psikologis di miskin.
Orang yang menjadi miskin karena adanya kecacatan pribadi,dalam arti fisik,mental(attitude),malas,tidak jujur,merasa terasing sehingga mereka tidak dapat mencari pekerjaan.
3. Faktor Sosial :
Kondisi-kondisi lingkungan sosial yang menjebak orang menjadi miskin. Misalnya terdapat deskriminasi ,berdasarkian usia,jender,etnis,yang menyebabkan orang menjadi miskin. Termasuk dalam faktor ini ialah kondisi sosial keluarga si miskin yang biasanya menyebabkan kemiskinan antar generasi.
4. Faktor Kultural :
Kondisi atau kualitas budaya yang menyebabkan kemiskinan. Faktor ini secara khusus sering menunjuk konsep “kemiskinan kultural” atau budaya kemiskinan.Menghubungkan dengan penelitianOscar Lewis di Amerika Latin : bahwa memang ada apa yang disebut kebudayaan kemsikinan,yaitu pola kehidupan masyarakat yang mencerminkan pola hidup apatis,ketidak jujuran,ketergantunga,motivasi yang rendah,ketidak stabilan keluarga dsb.
Kebudayaan kemiskinan merupakan ciri dari suatu negara msikin .
5. Faktor Struktural :
Menunjuk pada struktur atau sistem yang tidak adil ,tidak sensitif,dan tidak accessible sehingga menyebabkan seseorang atau sekelompok orang menjadi miskin.Sebagai contoh , sistem ekonomi neoriberalisme yang diterapkan di Indonesia telah menyebabkan para petani,nelayan,dan pekerja sektor informal terjerat oleh, dan sulit keluar dari kemiskinan.Sebaliknya,stimulus ekonomi pajak dan iklim investasi lebih menguntungkan orang kaya dan pemodal asing untuk terus dapat memumpuk kekayaan.
2.7 Kebijakan Anti Kemiskinan
Kebijakan anti kemiskinan dan distribusi pendapatan mulai muncul sebagai salah satu kebijakan yang sangat penting dari lembaga-lembaga dunia, seperti Bank Dunia, ADB,ILO, UNDP, dan lain sebagainya.
Tahun 1990, Bank Dunia lewat laporannya World Developent Report on Proverty mendeklarasikan bahwa suatu peperangan yang berhasil melawan kemiskinan perlu dilakukan secara serentak pada tiga front :
i. Pertumbuhan ekonomi yang luas dan padat karya yang menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan bagi kelompok miskin,
ii. Pengembangan SDM (pendidikan, kesehatan, dan gizi), yang memberi mereka kemampuan yang lebih baik untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi,
iii. Membuat suatu jaringan pengaman sosial untuk mereka yang diantara penduduk miskin yang sama sekali tidak mamu untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan perkembangan SDM akibat ketidakmampuan fisik dan mental, bencana alam, konflik sosial, dan terisolasi secara fisik.
Untuk mendukung strategi yang tepat dalam memerangi kemiskinan diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan perantaranya dapat dibagi menurut waktu, yaitu :
Intervensi jangka pendek, berupa :
a. Pembangunan sektor pertanian, usaha kecil, dan ekonomi pedesaan
b. Manajemen lingkungan dan SDA
c. Pembangunan transportasi, komunikasi, energi dan keuangan
d. Peningkatan keikutsertaan masyarakat sepenuhnya dalam pembangunan
e. Peningkatan proteksi sosial (termasuk pembangunan sistem jaminan sosial)
Invervensi Jangka Menengah dan Panjang, berupa:
a. Pembangunan/penguatan sektor usaha
b. Kerjsama regiona
c. Manajemen pengeluaran pemerintah (APBN) dan administrasi
d. Desentralisasi
e. Pendidikan dan kesehatan
f. Penyediaan air bersih dan pembangunan perkotaan
g. Pembagian tanah pertanian yang merata.
2.8 Contoh Kasus Kemiskinan
Papua Masih Daerah Termiskin di Indonesia
TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana mengatakan berdasarkan hasil riset terakhir. predikat daerah termiskin di Indonesia masih dipegang Papua. "Tingkat kemiskinan di daerah Papua sebesar 31,11 persen. Adapun tingkat kemiskinan nasional saat ini adalah 11,96 persen," ujar Armida saat ditemui di Kementerian Bappenas, Senin, 13 Agustus 2011.
Armida mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan Papua masih memilki tingkat kemiskinan yang tinggi. Salah satunya adalah faktor konektivitas. Berdasarkan faktor konektivitas, Papua masih tergolong susah dijangkau sehingga aktivitas dan pertumbuhan ekonomi di sana tergolong susah berkembang.
Faktor lainnya, kata Armida, adalah masalah tingkat isolasi. Ada beberapa daerah di Papua yang terisolasi dari peradaban, sehingga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di sana tidak merata.
"Di Papua, daerah yang makmur adalah yang lebih dekat ke laut atau pesisir pantai. Di daerah pegunungan, tingkat kemiskinannya masih tinggi. Kesejahteraan di sana perlu diratakan dan itulah yang pemerintah lagi upayakan," ucap Armida.
Saat ditanyakan bagaimana Armida akan memecahkan masalah kemiskinan di Papua, ia mengatakan pemerintah sudah menyiapkan program MP3KI. MP3KI atau Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia adalah program yang berupaya menanggulangi masalah kemiskinan di tingkat nasional dengan mengedepankan pembangunan infrastruktur, industrialisasi pedesaan, dan pengembangan kegiatan.
Armida sendiri, pekan lalu, mengatakan bahwa Bappenas telah menyiapkan peta pembangunan proyek-proyek infrastruktur baru di wilayah timur, terutama Papua. Beberapa yang direncanakan adalah pembangunan infrastruktur berupa bandara dan pelabuhan laut. Hal itu, salah satunya, untuk memecahkan masalah konektivitas.
ISTMAN MP
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari masalah kemiskinan diatas kita bisa menyimpulkan bahwa kemiskinan dapat diatasi dengan cara menambah lapangan pekerjaan, meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar, memberikan pelatihan wirausaha kepada masyarakat, dan memberi bantuan kepada masyarakat miskin.
Daftar Pusaka
https://andinurhasanah.wordpress.com/2012/11/08/kemiskinan-dan-kesenjangan/
http://priennovita.blogspot.co.id/2015/05/kemiskinan-dan-kesenjangan-perekonomian.html
http://shellanur2min.blogspot.co.id/2017/04/makalah-kemiskinan-dan-kesenjangan-di.html
https://bisnis.tempo.co/read/423266/papua-masih-daerah-termiskin-di-indonesia
Edy Suharto, Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia
Suharto,Edy. Konsep Kemiskinan dan Strategi Penanggulangannya


Komentar
Posting Komentar